Setelan lengkap sama dupatta, udah tertutup dari sananya.
Semua yang ada di halaman ini dari Pakistan.
Ini yang paling sering nggak disadari. Baju Pakistan dari sananya emang udah tertutup.
Lengannya panjang penuh sampai pergelangan. Kerahnya nggak terbuka. Panjangnya minimal sampai bawah lutut, seringnya sampai mata kaki. Dan hampir semuanya udah satu set sama dupatta.
Jadi buat yang berhijab, nggak perlu diakalin. Nggak perlu nambah inner, nggak perlu nyari cardigan buat nutup lengan. Beli, pakai, udah.
Yang kedua soal cuaca. Di sana musim panasnya bisa tembus 45 derajat, jadi bajunya emang dirancang buat cuaca panas. Bahannya ringan dan udara tetap lewat.
Malang sama Jakarta jalan di 28 sampai 34 derajat dengan kelembapan tinggi. Beda memang, tapi masalahnya sama: gimana caranya nggak gerah.
Kalau ada satu hal yang bikin baju Pakistan beda, itu lawn.
Lawn adalah katun yang ditenun sangat halus. Benangnya tipis, anyamannya rapat, tapi udara tetap bisa lewat. Hasilnya kain yang ringan, nggak nempel di badan, dan adem walau dipakai seharian.
Yang perlu dicek waktu beli: lawn asli teksturnya halus tapi nggak licin, dan kalau diangkat ke cahaya kelihatan anyamannya rapat. Yang campuran polyester kelihatan lebih mengkilap dan kerasa lebih licin di tangan.
Yang paling sering ketemu di baju Pakistan:
Zardozi. Kawat logam ditarik satu per satu ke kain yang direntangkan di bingkai kayu. Ini yang paling makan waktu dan paling mahal.
Gota. Pita emas atau perak yang dijahit jadi motif, biasanya di tepi lengan sama bawah.
Dabka. Benang logam dipilin jadi per kecil terus dijahit rapat, bikin permukaannya timbul.
Resham. Benang sutra warna, ini yang bikin motif bunga.
Bedanya sama bordir mesin kelihatan kalau dilihat dari dekat. Bordir tangan teksturnya nggak rata sempurna, ada bagian yang lebih timbul. Bordir mesin rata dan seragam.
Potongannya hampir sama. Kurta, kameez, anarkali, shalwar, sharara, dupatta, dipakai di dua-duanya.
Yang beda ada tiga.
Bordirnya. Pakistan lebih banyak main benang emas yang dijahit tangan, padat di dada terus turun sedikit ke perut. India lebih sering main payet, manik, sama cermin kecil.
Kainnya. Pakistan terkenal sama lawn dan khaddar. India lebih banyak sutra, chiffon, sama georgette.
Potongannya. Kameez Pakistan cenderung lebih lurus dan lebih panjang. Yang India lebih sering ngepas di badan.
Kami jual dari dua-duanya. Kalau mau lihat semuanya, ada di halaman baju India wanita. Nama potongannya lengkap ada di panduan nama baju India dan Pakistan.
Beda sama baju lokal yang dijual per potong, baju Pakistan biasanya satu set tiga bagian.
Kameez, atasan panjangnya. Shalwar atau trouser, celananya. Dupatta, selendang panjangnya.
Enaknya, warnanya udah pasti nyambung. Kamu nggak perlu nyari celana yang warnanya pas atau selendang yang motifnya cocok.
Sebagian produk cuma dua potong, tanpa dupatta. Kami tulis jelas di tiap halaman produk isinya apa aja.
Ukuran Pakistan cenderung lebih besar satu tingkat dari ukuran Indonesia. Kalau biasanya kamu pakai L lokal, kemungkinan besar M di sini udah pas.
Makanya kami tulis lengkap dalam sentimeter: dada, pinggang, pinggul, bahu, sama panjang dari bahu. Bukan cuma S, M, L.
Cara paling akurat mastiin muat: ambil baju yang paling pas di badanmu, bentangkan di lantai, ukur lebar dadanya dari ketiak ke ketiak, terus kalikan dua. Bandingkan sama angka di halaman produknya.
Kami ambil sedikit-sedikit, jadi satu model biasanya cuma beberapa potong per ukuran. Kalau habis, belum tentu ada lagi.
Tiap potong kami ukur sendiri pakai meteran sebelum angkanya ditulis di website.
Diukur ulang dan dikirim dari Malang.